Minggu, 08 Februari 2015

Jadwal Pertandingan Persib di Tahun 2015


Selain menghadapi Indonesia Super League (ISL) 2015 mendatang yang direncanakan akan berlangsung mulai 21 Februari 2015, Persib Bandung akan dihadapkan pada beberapa pertandingan lain seperti final Inter Island Cup yang sempat tertunda, turnamen pra musim Piala Wali Kota Padang, Turnamen segitiga antara juara Liga Thailand, Malaysia dan Indonesia, uji coba, Piala Indonesia dan play off Liga Champions Asia.
Padatnya jadwal yang akan dihadapi skuad Maung Bandung tersebut dirangkum dalam sebuah tabel berikut ini :
Kompetisi/TurnamenTanggalLawan
Piala Walikota Padang4-8 Januari 2015Semen Padang, PSP Padang, Sriwijaya FC, Sarawak FA, Johor
Uji Coba11 Januari 2015Pahang FC
Trofeo15 Januari 2015Buriram United (THA), Johor Darul Ta’zim (MAS)
Final IIC27 Januari 2015Arema Cronus
Playoff LCA10 Februari 2015T&T Hanoi FC
Kick off ISL21 Februari 2015PERSIB VS Persipura

Detik-detik Selebrasi dan Angkat Trofi Kemenangan PERSIB Juara ISL 2014

Detik Detik Konvoi Penyambutan Pemain PERSIB | Persib Juara ISL 2014

BOBOTOH

                    
   PERSIB merupakan salah satu klub sepak bola terbesar di Indonesia. Dikatakan demikian karena Persib memiliki jumlah pendukung yang sangat banyak. Pendukung Persib di namakan BOBOTOH ,namun sekitar Tahun 90 muncul komunitas komunitas kelompok suporter PERSIB terbentuk, Pembentukan itu bertujuan supaya bobotoh bisa terorganisir ketika nonton di Stadion. Nama nama komunitas itu di antara lain Viking,Balad Persib, Bomber (Bobotoh Maung Bersatu), Vicker, Rebolan, Jurig Persib, Casper, Superman,Dan masih banyak lagi nama nama komunitas lain nya.
   Viking,Bomber Dll Adalah Bobotoh Tapi Bobotoh Belum Tentu Viking,Bomber Dll (Organisasi suporter)
   Kehadiran bobotoh adalah semangat buat Persib Dan khususnya buat pemain,Tanpa bobotoh PERSIB tidak ada apa-apanya ,PERSIB BESAR KARNA BOBOTOH.Bobotoh sangat Berperan penting bahkan sangat vital,Terbukti akhir akhir tahun ini Persib mempunyai banyak sponsor,itu semua tidak lepas karna peranan bobotoh, sponsor masuk ke Persib karna mempunya suporter yang banyak.
   Dari tulisan di atas jelas terlihat bahwa PERSIB KETERGANTUNGAN TERHADAP BOBOTOH. Sekarang tergantung dari kita semua, bagaimana cara menyalurkan kecintaan terhadap persib,maknai arti dari Cinta,mari kita dukung Persib pakai hati, jangan sampai kecintaan kita terhadap Persib malah akan merugikan Persib,jauhkan tindakan tindakan yang di larang oleh pssi.Mari kita mulai berbenah diri ,jangan sampai loyalitas totalitas kita mendukung persib di salahkan arti (salah kaprah).
   Mungkin cukup sekian dulu tulisan dari saya,mudah mudahan para pembaca atau bobotoh mengerti maksud dari tulisan saya . Saya hanya Berharap Bobotoh makin "Dewasa"

Bobotoh 1995, Setia, Arungi Batas Negara


“Masalah penonton bagi Persib jangan jadi pemikiran, karena saat ini (1995, Red.), Persib merupakan tim yang mempunyai fans yang banyakdi manapun mereka bertanding.” – Soeparjo Pontjowinoto.
Sembilan belas musim memang bukan waktu yang sebentar. Namun, penantian panjang bobotoh untuk melihat Persib bandung juara terlaksana juga di musim 2014 lalu. Sebagai juara, Persib akan menjadi wakil Indonesia di babak kualifikasi 2 Asian Champions League (ACL) 2015, menghadapi Hanoi TT di Vietnam.
Ini merupakan turnamen AFC kelas Asia kedua bagi tim Persib setelah 1995. Tepatnya 19 tahun yang lalu pula, Persib bermain di ajang sama dengan prestasi yang cukup bisa dibanggakan, masuk 8 besar. Musim depan, bobotoh kembali akan disuguhi pertandingan Persib di ACL, jika pun kalah, Persib akan pasti bermain di ajang di bawahnya, AFC Cup 2015. Pertandingan tingkat Asia ini tentu saja dinantikan oleh bobotoh.
Bobotoh merupakan kawan yang setia Persib, di manapun Si Pangran Biru berada. Di tahun 1995, Persib terancam tidak bisa menjadi tuan rumah perempat final Liga Champion Asia 1995 karena stadion Siliwangi yang tidak memadai. Rencana pemindahan homebase ke Stadion Senayan (sekarang gelora Bung Karno) Jakarta, sempat disesalkan oleh beberapa pengurus. Namun, Sekum PSSI waktu itu, Soeparjo Pontjowinoto mengingatkan, jika pertandingan dilaksanakan di Jakrata, Persib masih mempunyai Bobotoh, yang akan selalu menemani di manapun mereka bermain. (Verdi Akan Membawa 18 Pemain, Pikiran Rakyat, 10 Nov 1995)
Rencana memindahkan homebase Persib ke Jakarta selama perempat final pun disambut positif oleh pelatih Persib saat itu, Indra Thohir. Dalam wawancaranya, Thohir mengatakan bahwa faktor mental menjadi pertimbangan utama. Pelatih yang membawa Persib juara Liga Indonesia edisi pertama itu belasan kalau anak-anak Persib kerap bermain dalam tekanan jika bermain di kandang sendiri.
“Bila main di Bandung, anak-anak sering tampil dengan beban mental yang berat. Mereka dituntut untuk bermain bagus dan menang oleh masyarakat pecinta sepakbola kita. Mereka jadi serba salah”. ujar Bah Thohir. (Kesiapan Persib Dinilai Jumat Ini, Pikiran Rakyat, 10 Nov 1995)
Pendapat ini memang terbukti saat pertandingan terakhir di perempat final saat berhadapn dengan wakil Korea, Ilhwa Chunma. Tampil bagus di 10 menit pertama dan mencetak gol di menit ‘6 lewat Yudi Guntara, permainan Persib yang monoton ini membangkitkan sisi kritis Bobotoh. Permainan yang diperagakan Persib saat itu dicemooh sepanjang pertandingan. Wartawan Pikiran Rakyat menggambarkan:
“Yel-yel penonton semakin menambah semangat permainan para pemain Persib, namun hanya berlangsung 10 menit babak pertama. Ilhwa Chunma mulai mengancam gawang Persib lewat serangan cepat kombinasi dari kiri dan kanan. Akhirnya gol Chunma memang tinggal menunggu waktu dan membungkam teriakan penonton, bahkan berubah menjadi caci maki terhadap tim kesayangannya”(Langkah Persib Dihentikan Ilhwa Chunma, Pikiran Rakyat, 29 November 1995).
Di sisa babak pertama, Ilhwa Chunma memberondong gawang Persib dan menghasilkan 4 gol di babak pertama. Di akhir waktu, Persib kalah 2-5 dan tersingkir dari turnamen.
Sebelum memasuki fase perempat final Persib terlebih dahulu melewati fase kualifikasi sebanyak dua kali yang masing-masing dimainkan 2 leg. Pada kualifikasi pertama, tim Maung Bandung berhadapan dengan Bangkok bank di Thailand. Jarak yang lumayan antara Bandung dan Bangkok ternyata tidak menyurutkan Bobotoh untuk bisa mendukung timnya secara langsung. Sekitar 300 Bobotoh tercatat melakukan awayday di tahun 1995 itu. Kehadiran bobotoh ini sepertinya memberikan suntikan moral yang tidak sedikit untuk tim. Alhasil, Persib bisa menang 2-0 di stadion Chulalongkorn Bangkok, 16 September 1995.
Wartawan PR menulis: “Tim tuan rumah kemudian mempergencar serangan. Bahkan mantan pemain nasional (Thailand di Sea games 1993) Apichad Thave, sempat mengejutkan kubu Persib yang didukung sekitar 300 bobotohnya, ketika tendangan keras jarak jauhnya membentur mistar gawang Anwar sanusi.” (Persib Bungkam Bangkok Bank 2-0, Pikiran Rakyat, 17 September 1995). Kemenangan perdana Persib di pertandingan resmi yang digelar AFC itu disambut gembira oleh berbagai pihak termasuk bobotoh (18 September 1995). Mereka menyambut kedatangan tim di bandara Soekarno Hatta. (Rombongan Persib Tiba di Tanah Air, Pikiran Rakyat, 19 September 1995)
Lawan yang dihadapi Persib di pertandingan selanjutnya adalah tim asal Filipina, Pasay City. Di leg pertama yang dilangsungkan di Stad Siliwangi bandung 14 Oktober 1995, Persib menang 2-1 keduanya lewat gol Robby Darwis. Di pertandingan selanjutnya, Persib harus bertandang ke Stadion Rizal Memorial Manila, 28 Oktober 1995.
Menjelang pertandingan away selanjutnya tersebut, Pikiran Rakyat bekerja sama dengan sebuah biro perjalanan mengadakan program tandang bareng. Program ini dimaksudkan untuk memberangkatkan Bobotoh yang ingin mendukung Persib di sana. Program ini berhasil mengumpulkan 60 bobotoh yang berangkat ke Manila, seperti yang diakui Iman S Notodirdjo dan Yusman Hidayat, perwakilan Bidang Protokoler Kedutaan Besar Indonesia di Filipina. (Pasay Melawan Persib Berlangsung Malam hari, Pikiran Rakyat, 26 Oktober 1995)
Rentang waktu 19 tahun memang telah mengubah segalanya, tapi ada yang sepertinya tidak akan berubah, fanatisme Bobotoh. Seperti yang telah dicatat dalam sejarah, Bobotoh Persib akan selalu menyambut pemainnya di manapun mereka berada. Keadaan ini tidak hanya berlangsung sejak puluhan tahun lalu saja, tapi sudah menjadi tradisi, melintas generasi.
Akankah tradisi ini berlangsung saat Persib berlaga di level Asia musim depan? Siapkan paspor kalian …!!

Sabtu, 07 Februari 2015

Apakah Itu Flower City Casual ?





   Sebelum kita membahas apa itu FCC, ada baiknya untuk dulu apa itu Casuals Culture, tentu saja karena menggunakan bahasa inggris, Casuals Culture pertama kali berkembang di Inggris, tepatnya Liverpool akhir tahun 70-an dan awal 80-an, dimana konflik antar pendukung klub di Inggris tengah panas-panasnya, sehingga akses para pendukung sepakbola untuk memasuki bar dan melakukan perjalanan tandang semakin sulit akibat larangan dari otoritas setempat dan ancaman pendukung klub lawan. Sejak itu, produk sandang dari desainer terkemuka di Inggris seperti Burberry, Stone Island, CP Company, Sergio Tacchini, Fila, Trainers Adidas Originals, Ellesse, Scott & Lyle menjadi pilihan alternatif pengganti jersey dan merchandise klub yang dinilai terlalu berbahaya untuk dipakai, disamping itu infiltrasi ke kelompok saingan pun semakin mudah dilakukan.
                             
   Lalu bagaimana dengan kultur skinhead dan hooliganisme? Banyak orang yang mengidentikan casuals dengan kultur skinhead dan hooligan, kultur casuals memiliki keterkaitan dengan kultur skinhead, karena pada awal kemunculannya kultur ini kaum skinhead lah yang memilih berpakaian tanpa warna klub di stadion, mereka memilih menggunakan boots martens dan perry kebanggaan mereka di tribun namun pada saat itu otoritas disana mengidentikan skinhead dengan perusuh sepakbola. hingga ada penitipan paksa boots sebelum masuk ke tribun stadion, karena tahu sendiri akibatnya jika sol Martens mendarat di wajah. Sehingga penampilan sporty ala petenis kondang saat itu menjadi pilihan cerdas, casuals sendiri menyatukan banyak subkultur dalam kultur sepakbola. Berbagai genre musik dari post punk, oi!, new wave, hardcore hingga britpop identik dengan kultur Casuals.
   Lalu apa hubungannya dengan hooliganisme? Hmmmà sebenarnya saya menghindari term hooligan dalam bahasan ini, karena hooligan adalah term yang diciptakan media untuk perilaku yang buruk dalam kultur pendukung sepakbola seperti perkelahian antar pendukung sepakbola, pengrusakan fasilitas umum, dll., beberapa Casuals memang mempraktikan hooliganisme dalam aktivitasnya, oleh karena itu saya sangat menghindari term hooligan di ranah ini.
   Kultur Casuals masuk ke ranah budaya pop saat sineas tertarik untuk mengangkatnya pada layar lebar, sebt saja The Firm 1984, I.D, Cass, The Rise of Footsoldier, Green Street I & II, Football Factory, Awaydays dan The Firm 2009 dan beberapa judul lainnya. Diantara banyak film tersebut, menurut saya The Firm dan Awaydays lah yang paling mendekati kultur Casuals, dimana unsur
fesyen sebagai bagian dari kultur Casuals sangat ditonjolkan oleh sang pembuat film.
                                       
FCC as local casuals
   Lalu apa itu FCC? FCC merupakan kependekan dari Flowers City Casuals, yang maknanya kurang lebih sebagai Casuals dari Kota Bandung, berawal dari kesukaan akan budaya inggris, hoby bergaya dengan brand eropa dan kecintaan pada Persib Bandung, sekitar tahun 2005 berdirilah FCC. Berbeda dengan klub penggemar Persib Bandung lainnya, FCC tidak memiliki struktur organisasi dan keanggotaan formal.
   Dimanakah FCC bisa ditemui? Oya, kami selalu berada di sisi utara Stadion Siliwangi di setiap laga tandang, jangan berharap mendapatkan koreografi yang indah disini, apa lagi berharap bisa bernyanyi bersama chants ôUwa û Eweö atau ô******Bonek sama Sajaö, karena kami tidak seperti itu, kami berbeda dengan pendukung militan dari bagian timur pulau jawa tersebut, tak ada panglima, tak ada koreografi, mungkin hanya flare terbakar, chants dan caci-maki terhadap klub lawan yang akan didapatkan disini.
   Diluar tribun, kami bisa ditemui pada waktu-waktu tertentu, seringkali pada siaran langsung laga tandang Persib Bandung ataupun bigmatch Premier League berlangsung, di kedai seputaran kota Bandung yang menjual bir dengan harga yang tidak terlalu mahal dan menyiarkan tayangan langsung sepakbola, selain PERSIB, obrolan tentang items casuals pun menjadi perbincangan seru diantara kami, info tentang lapak Trainers Adidas Originals ataupun secondhand jaket Sergio Tacchini, Fila, Slazenger menjadi tema penting. beberapa diantara kami adalah penganut taat paham Straight Edge, dan kami respek dengan itu semua.
   Ada hal-hal yang sangat dibenci oleh FCC di tribun Stadion, memakai jersey atau merchandise klub yang tidak ada hubungannya dengan pertandingan saat itu, apalagi ditambah dengan tidak menggunakan alas kaki (karena kami menganggap setiap laga Persib adalah seremonial suci yang harus sangat dihargai, bayangkan saja kamu datang ke pesta perkawinan tanpa alas kaki) dan menyanyikan lagu persahabatan antara dua grup pendukung sepakbola dengan embel-embel ôSatu Hatiö WTF! Dan satu lagi, membawa gitar ukulele di tribun, Tai Suci! (maksudnya Holyshit) Apa lagi itu! siapapun bisa menjadi bagian FCC, tentunya mencintai Persib dan kultur Casuals. Bersikap Casuals dan mari bergabung bersama kami disini, di tribun utara!

Kedewasaan Akan Membawa Kita Pada Kesuksesan

   Kedewasaan sering dilihat dari segi usia yang telah mapan dan mencapai aqil baliq baik bagi pria maupun wanita. Mulai suka terhadap lawan jenis kita, penampilan fisik kita berubah , cara berpakaian , nada berbicara , dan masih banyak lagi yang berubah seiring dengan bertambahnya usia kita.
  
  Namun terkadang semua perubahan itu tak diiringi dengan perubahan pola berpikir kita sendiri. Mungkin beberapa dari kita sering tidak sadar bahwa tingkah laku kita tak lebih dari seorang anak berusia 10 tahun. Atau bahkan sebaliknya kita melihat orang yang sudah dewasa tetapi pola pikir dan tingkah laku mereka seperti anak – anak.
   Jika sudah begitu lantas apa yang akan kita terima dari perilaku kita itu? Yang paling mendasar tentu kita akan menerima nasihat dari orang tua kita atau dari orang yang kita anggap lebih tua dari kita. Mungkin kita sebagai manusia terkadang tidak terlalu suka jika harus dinasehati dan malah menganggap nasehat itu sebagai intimidasi dari orang yang menasehati kita. Dan yang paling buruk yang akan kita terima adalah sebuah sanksi / hukuman yang akan memberi kita efek jera agar kita tidak mengulang kesalahan itu.
   Orang yang sudah dewasa itu terkadang tidak mau dinasehati meskipun yang dilakukan oleh dia itu adalah sebuah kesalahan. Apalagi jika dinasehatinya oleh orang yang usianya jauh dibawah orang dewasa itu. Karena menurutnya yang dilakukan oleh dia itu benar tetapi orang lain menilai cara yang dilakukannya salah.
   Sudah hakikatnya manusia itu saling mengingatkan akan kesalahan yang dilakukan oleh sesama manusia lainya. Mengajari dengan cara yang benar , membimbing mereka kearah yang lebih baik tetapi dengan catatan kita harus lebih baik dari mereka yang akan kita ajari. Kalau kita sendiri tidak lebih baik atau bahkan lebih buruk kelakuannya dari mereka lantas orang yang akan kita bimbing kejalan yang benar itu tidak akan pernah berubah. Malah sebaliknya mereka akan mengikuti apa yang kita kerjakan.
   Lalu apa hubungannya kedewasaan dalam sepak bola? Sepak bola tak bisa dijauhkan dari para pemain ke – 12 mereka. Sebuah klub sepak bola tanpa seorang supporter layaknya sebuah bangunan tanpa pondasi yang kokoh. Sudah menjadi tugas seorang supporter untuk mendukung klub sepak bola yang selama ini ia banggakan baik disaat kalah ataupun disaaat menang. Tanpa nyanyian rasis , membuat keonaran , menyalakan red flare, dan tidak mengintimidasi supporter / tim yang menjadi lawan bermain kita.
   Memberikan sebuah dukungan tak hanya datang langsung menyaksikan klub kesayangan kita berlaga di stadion , dukungan juga bisa datang melalui do’a yang selalu kita panjatkan kepada-Nya agar klub yang kita dukung meraih kemenangan disetiap pertandingan yang dijalaninya.
   Sebagai seorang bobotoh tentu saja saya sangat menginginkan hal itu terjadi ketika menyaksikan langsung Persib Bandung berlaga, namun rasanya masih saja ada oknum bobotoh yang belum dewasa dalam mendukung Persib. Sebagai contohnya masih sering kita dengar nyanyian rasis , pelemparan botol kedalam lapangan, menyalakan red flare , ugal – ugalan dijalan raya, bahkan tak jarang juga masuk ke stadion dalam keadaan mabuk berat.
   Alhasil, sanksilah yang sering kita dapatkan dari para pengurus sepak bola Indonesia meskipun terkadang menurut saya sanksi yang diberikan kepada bobotoh itu kurang tepat. Tapi, ya itulah carut marutnya organisasi sepak bola Indonesia. Meskipun bobotoh tidak salah juga tetap saja sanksi itu harus kita jadikan sebagai bahan introspeksi diri kita agar semakin dewasa dan semakin baik lagi dalam mendukung Persib.
   Jangan kita merasa karena bukan kesalahan kita lantas kita mengabaikan sanksi itu, justru sebaliknya kita harus patuh dulu saja terhadap sanksi itu biar “mereka” berpikir bahwa bobotoh itu sudah dewasa dan tidak perlu diberikan sanksi lagi. Toh nanti juga yang diuntungkan siapa lagi kalau bukan kita sebagai bobotoh. Bisa leluasa menyaksikan laga Persib langsung di stadion baik di laga kandang maupun di laga tandang.
   Maka dari itu mari kita rubah pola pikir dan tingkah laku kita menuju kedewasaan jangan selalu “kumaha aing weh” ( pasti kata itulah yang sering kita dengarkan kalau kita menasihati orang sunda).
   Sebab jika bobotoh sudah dewasa semuanya maka kesuksesan juga akan kita peroleh, bukan hanya bobotoh yang meraih kesuksesan tapi Persib Bandung juga sebagai klub yang selama ini kita bela akan semakin dekat dengan gelar juara yang sudah lama ini kita idamkan.
   Hilangkan nyanyian rasis , hentikan berbuat onar , tong raribut wae jeung dulur da sarua bobotoh, tong mabok ka jero stadion lamun rek mabok mah di pub weh tong di stadion da stadion mah tempat jang lalajo bola lain jang mabok !!
Padamu Persib kami Berjanji
Padamu Persib kami Berbakti
Padamu Persib kami Mengabdi

Bagimu Persib Jiwa Raga Kami